Hasil Identifikasi dan Analisis Masalah Pembangunan Desa

Analisis SWOT

Perumusan Rencana Strategis dalam pengembangan Desa Ketawangrejo ke masa yang akan datang dilakukan dengan menggunakan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunities, dan Threats) terhadap potensi Desa. Untuk memberikan penilaian terhadap analisis SWOT ini digunakan 4 pertanyaan, yakni:
1. Peluang eksternal terpenting apakah yang dimiliki?
2. Ancaman eksternal terpenting apakah yang dihadapi?
3. Apa kekuatan internal yang terpenting yang dimiliki?
4. Apa kelemahan terpenting yang ada?
Melalui analisis SWOT, dapat diidentifikasi faktor-faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor-faktor eksternal (peluang dan ancaman) dalam upaya pengembangan Desa Ketawangrejo.

a. Strength ( kekuatan)
Berdasarkan pengamatan dan inventarisasi kondisi dan potensi Desa Ketawangrejo maka dapat diidentifikasi beberapa faktor yang menjadi kekuatan Internal sebagai berikut :
1. Desa Ketawangrejo memiliki lahan pertanian dan perkebunan yang potensial untuk menghasilkan produk tanaman pangan (padi dan jagung), perkebunan (kelapa), dan hortikultura (cabai).
Lahan yang tersedia di Desa Ketawangrejo merupakan lahan kering, yang dimanfaatkan untuk pertanian. Pola penggunaan lahan tersebut terdiri dari sawah irigasi teknis (138 Ha), tegalan (85,6 Ha) dan perkebunan rakyat (66,9 Ha), yang sebagian besar dimanfaatkan untuk menanam padi, jagung, kelapa, dan cabai. Dari data monografi desa tahun 2007, lahan pertanian untuk tanaman padi seluas 138 Ha dan menghasilkan 1242 ton,jagung seluas 10 Ha yang menghasilkan 50 ton, kelapa seluas 25 Ha, dan cabai seluas 3 Ha.

2. Terdapat potensi yang besar untuk pengembangan peternakan kambing Peranakan Ettawa dan peternakan sapi.
Potensi Desa Ketawangrejo selain pertanian yaitu di bidang peternakan. Banyak warga Desa Ketawangrejo yang memelihara sapi dan kambing Peranakan Ettawa. Menurut data monografi desa tahun 2007, jumlah kambing mencapai 100 ekor dan sapi mencapai 350 ekor. Khusus untuk kambing peranakan ettawa harga jual dari bibit maupun induk kambing rata-rata mencapai sepuluh jutaan. Selain bibit, potensi lain dari kambing Peranakan Ettawa berupa susu yang mempunyai nilai jual yang tinggi.

3. Terdapat 138 Industri kecil Gula Kelapa dan industri emping melinjo yang sangat potensial untuk dikembangkan dengan bahan baku lokal.
Penduduk di Desa Ketawangrejo banyak yang mengembangkan industri gula kelapa dan industri emping melinjo. Bahan baku lokal untuk kedua industri tersebut tersedia cukup banyak. Dari data monografi desa tahun 2007, luas lahan yang ditumbuhi pohon kelapa mencapai 25 Ha. Dari data profil desa tahun 2007, diketahui nilai Produk Domestik Desa Bruto, nilai total produksi industri tersebut mencapai nilai 3.000.000/bulan, total nilai bahan baku yang digunakan bernilai 100.000, serta total nilai bahan penolong yan g digunakan mencapai 500.000.
Pohon melinjo juga banyak tumbuh di Desa Ketawangrejo. Hampir semua bagian dari pohon melinjo dapat dimanfaatkan. Sebagai contoh daun yang berusia muda dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, kulitnya dapat dimanfaatkan untuk makanan ringan dan kebutuhan rumah tangga serta buahnya dapat dimanfaatkan untuk membuat emping yang menpunyai nilai ekonomi tinggi.

4. Tersedia sumber daya manusia (petani, peternak, pengrajin, tukang kayu, tukang batu).
Suatu wilayah dapat tumbuh dan berkembang dengan baik memerlukan beberapa faktor, diantaranya tersedianya sumber daya alam dan sumber daya manusia yang mencukupi. Sumber daya alam merupakan faktor alam yang hanya bisa diterima dan dijaga kualitasnya oleh manusia. Sedangkan sumber daya manusia merupakan faktor yang dapat diolah dan ditingkatkan kualitasnya, baik itu dari ditinjau dari kuantitas maupun kualitas. Dari data monografi desa tahun 2007, terdapat 3177 jiwa yang bermata pencaharian sebagai petani, 53 jiwa menjadi buruh tani, dan 35 jiwa bekerja pada bidang pertukangan.

5. Desa Ketawangrejo berada di titik pertemuan jalur jalan Daendels dan jaringan jalan Ketawangrejo – Kutoarjo – Purworejo.
Desa Ketawangrejo terletak pada suatu lokasi strategis untuk mendukung pertumbuhan ekonomi desa.Pertemuan jalur jalan Daendels dan jaringan jalan ketawangrejo – Kutoarjo – Purworejo yang di proyeksikan untuk menjadi sarana pendukung Kawasan Bahari Terpadu merupakan salah satu potensi tersendiri untuk mendukung kegiatan perdagangan dan aktivitas ekonomi masyarakat desa.

6. Terdapat sarana dan prasarana desa seperti: transportasi (jaringan jalan, subterminal ketawangrejo, dan trayek angkutan umum), Ekonomi (pertokoan, Bank, koperasi), pendidikan (SD dan SMP), dan kesehatan (puskesmas pembantu dan bidan).
Kondisi fisik desa yang lengkap merupakan suatu nilai tambah Desa Ketawangrejo dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan suatu pelayanan publik yang baik dan dengan adanya sub terminal Ketawangrejo telah menempatkan Desa Ketawangrejo menjadi daerah tujuan perdagangan dan pergerakan barang dan manusia, yang pada gilirannya memacu Desa Ketawangrejo untuk memiliki peluang untuk pergerakan pelayanan dan jasa yang dibutuhkan oleh aktivitas ekonomi.

7. Desa Ketawangrejo memiliki pantai (Pantai Ketawang) yang cukup berpotensi untuk dikembangkan sebagai pendukung ekonomi masyarakat setempat.
Pantai Ketawang memiliki kondisi fisik yang potensial untuk dikembangkan sebagai suatu obyek wisata bahari. Prasarana yang dimiliki yaitu sebuah pintu masuk berupa gapura dan sebuah jalan menuju pantai. Pantai Ketawang juga cukup ramai dikunjungi masyarakat, khususnya pada hari libur dan seminggu setelah hari raya Idul Fitri. Dengan melengkapi berbagai sarana dan prasarana pendukung wisata, maka wisata pantai Ketawang akan lebih diminati dan dapat berkembang dengan cepat sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

8. Lingkungan masyarakat yang yang aman, damai, indah, lojinawi, kartaraharja (ADILOKA).
Lingkungan masyarakat aman dan kondusif dapat mendukung proses pembangunan masyarakat yang terarah. Dari data profil desa tahun 2007, jumlah konflik, perkelahian, pencurian, penjarahan, perjudian, pemakaian miras dan narkoba, prostitusi, pembunuhan, dan kejahatan seksual tidak terjadi sama sekali. Fakta tersebut didukung dengan adanya Pelembagaan Keamanan Semesta yaitu siskamling dan hansip yang menjaga keamanan desa. Dari data monografi desa tahun 2007 tercatat ada sembilan buah Pos Kamling dan sembilan buah kelompok ronda. Untuk pelaksanaannya tercatat ada 2 orang hansip terlatih dan satu orang satpam.

9. Lahan bekas tambang dapat digunakan untuk lahan pertanian dengan penen satu kali.
Penambangan PT Aneka Tambang di lingkungan wilayah desa pesisir Ketawangrejo memberikan kontribusi dalam penyerapan tenaga kerja dan bantuan untuk pengembangan desa. PT Aneka tambang juga berkewajiban untuk melakukan konservasi lahan pesisir, salah satunya dengan upaya pengolahan lahan bekas tambang untuk pertanian, baik padi maupun palawija. Jika upaya ini telah optimal maka akan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat (petani) cukup signifikan, karena apabila dapat dikelola dengan optimal, lahan pertanian bekas tambang bisa panen 3 kali dalam setahun.

10. Banyak terdapat bedok (kerang) di salah satu dusun yang dimiliki oleh Desa Ketawangrejo yang dapat digunakan sebagai alternatif sumber pendapatan masyarakat.
Potensi Kerang sangat potensial untuk dikembangkan di salah satu dusun di Desa Ketawangrejo, meskipun baru dimanfaatkan untuk konsumsi saja, kerang dapat menjadi salah satu alternatif sumber pendapatan bagi masyarakat setempat. Apalagi jika pemanfaatan dan pengolahannya sudah optimal, maka akan menyumbang pendapatan yang lebih besar lagi bagi masayarakat setempat, misalnya untuk industri, handycraft dll.

b. Weakness (kelemahan)
Selain memiliki berbagai kelebihan yang menjadi kekuatan, sebuah desa tentu juga memiliki berbagai kelemahan, dari hasil identifikasi diperoleh kelemahan desa ketawangrejo diantaranya :

1. Minimnya prasarana dan sistem pengairan yang mengakibatkan tidak optimalnya hasil pertanian.
Desa Ketawangrejo memiliki permasalahan untuk sistem pengairan, dapat dilihat dari masalah kekeringan pada saat musim kemarau sehingga produktivitas pertanian rendah. Sarana pertanian yang tersedia sampai sekarang ini hanyalah sebuah pompa air kecil. Sumber air adalah dari Wadas Lintang. Sistem pengairan yang kurang baik tersebut menyebabkan beberapa desa mengalami kesulitan dalam mencukupi kebutuhan air untuk pertanian.

2. Mahalnya harga pupuk dan bibit karena distribusi yang kurang lancar.
Pupuk dan bibit merupakan prasarana pertanian yang penting. Pertanian di Desa Ketawangrejo mengalami permasalahan untuk pupuk dan bibit, yaitu harga yang mahal karena distribusi yang kurang lancar. Distribusi yang kurang lancar ini disebabkan karena pengelolaan yang belum begitu baik dan kurangnya bantuan dari pemerintah. Badan usaha (terutama Koperasi Unit Desa) yang seharusnya menangani hal ini, fungsinya kurang optimal. Karena pupuk dan bibit mengalami permasalahan, menyebabkan rendahnya produktivitas pertanian.

3. Penggunaan pupuk non organik (pabrik) yang berlebihan dapat mengganggu lingkungan dan menimbulkan ketergantungan.
Sampai sekarang, pupuk yang digunakan untuk pertanian di Desa Ketawangrejo adalah pupuk non organik (pabrik) dengan berbagai alasan antara lain karena lebih praktis, lebih nyata hasilnya, pupuk organik membuat gatal-gatal, dan sebagainya. Penggunaan pupuk non organik yang berlebihan dapat mengganggu lingkungan dan menimbulkan ketergangguan. Kerusakan pada tanah dan terganggunya produktivitas lahan merupakan akibat jangka panjang dari penggunaan pupuk non organik yang berlebihan.

4. Masih kurangnya pengetahuan dan keterampilan petani dalam mengatasi serangan hama dan penyakit pada pertanian maupun peternakan.
Serangan hama penyakit pada pertanian dan peternakan membutuhkan penanganan yang tepat oleh petani maupun peternak agar tidak mengganggu produktivitas hasil pertanian dan peternakan. Penanganan hama penyakit di Desa Ketawangrejo belum maksimal karena kurangnya pengetahuan dan keterampilan petani maupun peternak. Penyuluhan tentang hama penyakit dan kerjasama dengan Pengamat Hama dan Penyakit (PHP) dapat menjadi langkah yang dapat dilakukan untuk mengendalikan hama dan penyakit secara terpadu.

5. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan peternakan, pertanian, dan industri kecil.
Desa Ketawangrejo memiliki potensi yang besar untuk bidang peternakan, pertanian, dan industri kecil (terutama gula kelapa dan emping mlinjo). Tiga bidang tersebut mempunyai peluang yang sangat besar untuk dikembangkan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tetapi pada kenyataannya, pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam pengelolaannya masih kurang sehingga pengembangan tidak optimal.

6. Adanya tengkulak mempengaruhi kestabilan harga produk hasil pertanian dan industri kecil.
Hasil pertanian dan industri kecil (terutama gula kelapa dan emping mlinjo) memerlukan pemasaran yang baik. Adanya tengkulak dalam proses pemasaran biasanya akan mempengaruhi harga produk di pasar. Contohnya ketika suatu produk dibeli murah kepada pelaku industri tetapi kemudian dijual dengan harga tinggi. Atau parahnya lagi, dilakukan penimbunan produk sehingga terjadi kelangkaan produk yang akan menyebabkan tingginya harga produk. Ada beberapa tengkulak di Desa Ketawangrejo yang dipercaya oleh masyarakat untuk memasarkan produk mereka, sehingga sampai sekarang masyarakat tidak menangani pemasaran produk sendiri. Secara otomatis, masyarakat tidak tahu menahu tentang kondisi pasar produk industri kecil yang mereka hasilkan (terutama tentang harga).

7. Sumber dana yang ada di desa untuk pengembangan usaha pertanian, peternakan, dan industri kecil masih sangat terbatas.
Usaha pertanian, peternakan, dan industri kecil di Desa Ketawangrejo sering menghadapi permasalahan dana sehingga sampai sekarang pengembangan bidang-bidang ini terbatas atau belum maksimal. Melihat kenyataan yang ada, usaha di Desa Ketawangrejo memelukan bantuan modal untuk pengembangannya. Jika sumber dana masih kurang, maka keadaan tidak akan pernah berubah.

8. Belum adanya jaringan pemasaran yang memadai untuk hasil pertanian, peternakan, dan industri kecil.
Jaringan pemasaran untuk setiap usaha di Desa Ketawangrejo belum memadai sehingga pemasaran yang ada sampai sekarang belum maksimal yang menyebabkan pemasukan atau pendapatan pelaku usaha terbatas. Diperlukan kerjasama dengan pelaku pasar sehingga dapat meningkatkan pemasaran dan membuka jaringan pemasaran produk.

9. Belum optimalnya fungsi koperasi.
Di Desa Ketawangrejo, permasalahan yang ada untuk bidang pertanian, peternakan, dan industri kecil, salah satunya karena tidak optimalnya fungsi koperasi (Koperasi Unit Desa). Saat ini, Koperasi Unit Desa (KUD) hanya menjual sarana dan prasarana usaha. Tetapi itupun masih sangat terbatas. Salah satu ungsi utama yang belum dilakukan oleh Koperasi Unit Desa adalah menampung dan memasarkan produk.

10. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang bencana gempa dan tsunami, serta langkah – langkah untuk mengurangi resiko bencana tersebut.
Sebagai desa pesisir, Desa Ketawangrejo memiliki kerawanan terhadap bencana, terutama gempa dan tsunami. Tetapi pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang bahaya gempa dan tsunami yang dapat membahayakan desa ini, masih sangat kurang sehingga diperlukan penyuluhan mitigasi dan pelatihan menghadapi bencana.
11. Kurangnya tenaga pengajar yang terampil.
Pendidikan merupakan sesuatu yang penting untuk masyarakat. Dengan pendidikan yang baik, akan menghasilkan Sumber Daya Manusia yang handal. Pendidikan memerlukan tenaga pengajar yang terampil agar tujuan dari pendidikan dapat tercapai. Tetapi tenaga pengajar di Desa Ketawangrejo masih sangat kurang sehingga memerlukan tambahan tenaga pengajar untuk memajukan pendidikan.

12. Kondisi fisik jalan yang buruk mengakibatkan rendahnya aksesibilitas.
Keberadaan dan keadaan jalan mencerminkan tingkat aksesibilitas suatu wilayah. Semakin baik kondisi jalan, maka tingkat aksesibilitas akan semakin tinggi. Aksesibilitas adalah tingkat kemudahan suatu daerah dapat dijangkau. Tingkat aksesibilitas dapat mempengaruhi kemajuan suatu wilayah. Semakin baik tingkat aksesibilitas, biasanya suatu daerah akan lebih maju karena aliran transportasi, komunikasi, teknologi, informasi, dan produk daru luar maupun dari dalam akan semakin mudah. Tetapi di Desa Ketawangrejo, kualitas jalan tidak merata, sehingga pembangunan wilayah tidak merata.

13. Koordinasi antar anggota kelompok tani dan kelompok ternak masih rendah.
Di Desa Ketawangrejo terdapat kelompok tani dan kelompok ternak yang mempunyai fungsi untuk memajukan atau mengembangkan usaha pertanian dan peternakan. Tetapi koordinasi antar anggota kelompok tani dan kelompok ternak masih sangat rendah sehingga peran kelompok tani dan kelompok ternak belum maksimal.

14. Kurangnya penghijauan dan belum optimalnya fungsi tanaman pemecah angin menyebabkan lahan pertanian di pesisir menjadi kering dan produktifitasnya masih rendah.
Karakteristik wilayah pesisir yang cenderung kering, angin kencang dan tanah sebagian besar terdiri dari lempung dan pasir menyebabkan sulitnya pengembangan pertanian di pesisir. Salah satu cara yang paling efektif untuk mengatasi hambatan tersebut adalah dengan penghijauan di kawasan pesisir. Penghijauan ini dapat berfungsi sebagai pemecah angin, sehingga melindungi tanaman dari angin, selain itu juga untuk menjaga kelembaban tanah agar tidak terlalu kering.

15. Masih rendahnya kualitas Sumberdaya Manusia.
Kualitas Sumber Daya Manusia yang rendah ini dipengaruhi oleh pengetahuan yang rendah. Kualitas Sumber Daya Manusia mempengaruhi pengembangan potensi di suatu wilayah. Semakin tinggi kualitas Sumber Daya Manusia, maka biasanya wilayah akan mengalami pengembangan yang maksimal. Karena Desa Ketawangrejo memiliki permasalahan rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia, maka pembangunan dan pengembangan wilayahnyapun rendah.

c. Opportunities (peluang)
Selain mengidentifikasi faktor internal berupa kekuatan dan kelemahan, desa juga harus mampu menangkap peluang dan ancaman yang datang dari lingkungan eksternal, peluang yang dapat diidentifikasi antara lain :

1. Banyak kebijakan pemerintah daerah, provinsi, pusat dan lembaga internasional yang mendukung pembangunan sosial dan ekonomi desa.
Pembangunan sosial ekonomi desa tentu tidak terlepas dari adanya suatu kebijakan. Kebijakan baik dari pemerintah daerah, provinsi, pusat dan lembaga internasional dapat dijadikan acuan untuk melakukan suatu langkah atau tindakan untuk mewujudkan dan mendukung pembangunan sosial dan ekonomi desa yang terkontrol dan terencana sesuai kebijakan yang telah ditetapkan.

2. Bantuan pompa air besar dari dinas terkait untuk membantu pengairan lahan pertanian pada musim kemarau.
Musim kemarau datang menjadi hal yang sangat menyulitkan bagi para petani. Penjatahan/giliran pengairan tetap saja tidak dapat memenuhi kebutuhan pengairan secara keseluruhan. Hal ini menjadi prioritas dalam pertanian Desa Ketawangrejo. Untuk mengatasi maka perlu adanya bantuan Pompa air besar dari Dinas terkait, sehingga apabila musim kemarau tiba warga tetap bisa mengairi lahan pertaniannya dan mempertahankan hasil produksi pertanian.

3. Perbaikan saluran irigasi dari waduk Wadas Lintang ke lahan pertanian di desa Ketawangrejo oleh dinas Pengairan.
Saluran irigasi dari Waduk wadas Lintang yang merupakan sumber pengairan untuk pertanian di desa Ketawangrejo perlu dilakukan pembenahan, karena pasokan air tidak terus mengalir ke tiap desa secara rutin tetapi digilir perdesa, termasuk untuk Desa Ketawangrejo. Volume air yang ada tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dalam pertanian. Jika musim kemarau ini menjadi hal yang sangat menyulitkan bagi para petani. Penjatahan/giliran pengairan tetap saja tidak dapat memenuhi kebutuhan pengairan secara keseluruhan. Maka dari itu dengan adanya perbaikan saluran irigasi oleh Dinas Pengairan ataupun dinas yang terkait lainnya diharapkan pasokan air dari waduk Wadas Lintang dapat lebih efisien, sehingga pengairan di desa Ketawangrejo tetap lancar.

4. Bantuan bibit dan pupuk dari dinas Pertanian dan Swasta kepada kelompok tani.
Keterbatasan Bibit dan Pupuk mejelang musim tanam sering mengalami kelangkaan, oleh karena itu perlu adanya bantuan bibit maupun pupuk dari dinas pertanian maupun swasta kepada kelompok tani. Bantuan bibit maupun pupuk tentunya harus sesuai standar kualitas di pasaran sehingga dapat dimanfaatkan seutuhnya yang nantinya akan didistribusikan langsung ke para petani memaluli kelompok tani yang ada di Desa Ketawangrejo.

5. Bantuan penyuluhan oleh dinas pertanian untuk mengatasi hama pada tanaman padi dan palawija.
Hama pada tanaman padi dan palawija sering menjadi faktor penghambat. Keterbatasan pengetahuan warga masyarakat guna mengatasi hama tersebut masih minim, maka perlu adanya penyuluhan oleh dinas pertanian maupu dinas terkait guna memberikan informasi dan langkah jitu mengatasi hama pada tanaman padi dan palawija. Apabila warga mampu mengatasi hama secara mandiri tentunya memberikan peluang agar dapat menjaga tanaman padi dan palawija.

6. Bantuan penyuluhan untuk pengembangan kambing Peranakan Ettawa, sapi dan unggas.
Bantuan penyuluhan yang diberikan dari Dinas Peternakan akan sangat membantu dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas peternakan kambing ettawa, sapi, dan unggas Desa Ketawangrejo. Penyuluhan yang diberikan dalam hal memeleihara, merawat dan menjaga hewan ternak tersebut. Dengan meningkatnya kualitas dan kuantitas tentunya peternakan kambing Peranakan Ettawa, sapi, dan unggas dapat berkembang dan mampu bersaing dengan pasar luar.

7. Bantuan modal dari Dinas Peternakan dan investor untuk pengembangan peternakan kambing Peranakan Ettawa.
Kambing Peranakan Ettawa adalah salah satu kambing yang di usahakan oleh penduduk Desa Ketawangrejo, dalam mengembangkan peternakan kambing Peranakan Ettawa, peternak membutuhkan modal agar dapat meningkatkan hasil produksi baik susu, bibit dan daging kambing Peranakan Ettawa. Bantuan modal dari dinas peternakan diharapkan dapat mendukung peternak dalam mengembangkan peternakan kambing Peranakan Ettawa.

8. Adanya peluang untuk meraih pasar yang lebih luas baik lokal, regional, nasional maupun internasional untuk produk industry gula jawa dan emping melinjo.
Industri gula jawa dan emping melinjo yang menjadi unggulan bidang industri dengan bahan baku dari lokal (Desa Ketawangrejo), memberikan peluang bagi pelaku industri untuk meraih pasar yang lebih luas baik skala lokal, regional, maupun internasional.

9. Adanya kebijakan pemerintah yang mendukung pengembangan Industri kecil dan menengah sebagai benteng pertahanan struktur ekonomi nasional.
Industi kecil dan Menengah di Desa Ketawangrejo terdiri dari dua jenis industri yaitu industri gula kelapa dan emping mlinjo yang memiliki prospek yang menjanjikan dan didukung kebijakan pemerintah mengenai kemudahan dalam pemberian pinjaman lunak bagi pelaku industri memberikan suatu kesempatan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produk industri gula kelapa dan emping.

10. Pesisir pantai selatan diproyeksikan sebagai Kawasan Bahari Terpadu.
Desa Ketawangrejo merupakan wilayah pesisir bagian selatan Kabupaten Purworejo yang didukung oleh Kebijakan Pemerintah Daerah mengenai Pengembangan Kawasan Bahari Terpadu sehingga memberikan peluang bagi Desa Ketawangrejo untuk mendapatkan program – program dan proyek yang berkaitan dengan Kawasan Bahari Terpadu serta memicu pengembangan desa kearah yang lebih baik dan berkelanjutan.

11. Desa Ketawangrejo dikenal sebagai “Desa Mandiri”.
Desa Ketawangrejo merupakan salah satu desa Mandiri dengan slogan ADILOKA tentunya menjadi modal bagi pengembangan desa yang lebih mandiri dan memiliki daya saing dengan desa yang lainnya. Desa Mandiri adalah desa yang telah mampu menjalankan pemerintah desanya dan mampu menjaga dan menstabilkan situasi desa daam berbagai aspek dan bidang yang ada.

12. Kerjasama perusahaan dalam bidang pertanian dengan Desa Ketawangrejo.
Bidang pertanian yang merupakan salah satu sektor perekonomian utama Desa Ketawangrejo sering mengalami hambatan dalam memasarkan hasil produksinya. Dengan adanya kerjasama dengan perusahaan seperti produsen mie, ataupun yang lainnya dapat dijadikan mitra dalam memasarkan hasil produksi pertanian Desa Ketawangrejo, sehingga para petani desa tidak lagi kebingungan dalam memasarkan produknya.

13. Permintaan kambing Peranakan Ettawa daerah Wonosobo mulai meningkat.
Semakin meningkatnya kualitas kambing Peranakan Ettawa di desa Ketawangrejo dan pemasaran yang telah dikenal didaerah luar khususnya di daerah Wonosobo, tentunya membawa angin segar kepada para peternak untuk memasarkan dan meningkatkan kualitas kambing Peranakan Ettawa. Oleh karena itu, permintaan kambing Peranakan Ettawa daerah Wonosobo menjadi salah satu tujuan pasar para peternak kambing Peranakan Ettawa Desa Ketawangrejo.

14. Permintaan melinjo dari Kecamatan Bagelan sangat tinggi.
Desa Ketawangrejo yang salah satu industrinya menghasilkan mlinjo merupakan potensi yang perlu dikembangkan lagi. Dalam pengembangannya, dapat dicapai dengan memperluas pemasaran seperti ke Kecamatan Bagelen yang tingkat permintaan pasar akan mlinjo sangat tinggi.

15. Perusahaan Antam mengubah lahan non produktif menjadi lahan produktif sehingga dapat dimanfaatkan warga untuk kegiatan pertanian.
Lahan bekas tambang pasir oleh Perusahan Antam menimbulkan perubahan penmanfaatan lahan yang sebetulnya dapat di manfaatkan untuk lahan produktif khususnya untuk pertanian padi. Dengan mengubah lahan non produktif menjadi lahan produktif dapat membantu mengembalikan lingkungan yang telah rusak akibat kegiatan penambangan, bahkan dapat memberikan nilai ekonomi tambahan bagi warga.

d. Threats (ancaman)
Hasil identifikasi ancaman untuk Desa Ketawangrejo antara lain:

1. Sumber air untuk pertanian berada di daerah lain (Waduk Wadas Lintang), sehingga lahan pertanian di Desa Ketawangrejo terancam kekeringan apabila distribusi air tidak lancar.
Sumber pengairan yang berada di daerah lain ini menyebabkan pasokan air untuk pertanian di Desa Ketawangrejo terhambat. Karena pasokan air tidak terus mengalir ke tiap desa secara rutin tetapi digilir perdesa, termasuk untuk Desa Ketawangrejo. Volume air yang ada tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dalam pertanian. Jika musim kemarau ini menjadi hal yang sangat merepotkan bagi para petani. Penjatahan/giliran pengairan tetap saja tidak dapat memenuhi kebutuhan pengairan secara keseluruhan. Hal ini menjadi prioritas dalam pertanian desa Ketawangrejo. Jika desa memiliki sumber air sendiri tentu hal ini tidak akan terjadi dan produksi pertanian lebih maju dan hasil tentu lebih maksimal.

2. Adanya produk pertanian, peternakan dan industri kecil yang sama dari daerah lain menyebabkan persaingan ketat yang mengancam eksistensi produk Desa Ketawangrejo.
Desa Ketawangrejo yang berbatasan langsung dengan daerah lain yang juga sama-sama memiliki potensi di bidang yang sama pula bisa mengancam hasil produk jika tidak dioptimalkan. Jika produk di daerah lain lebih baik tentu yang dihasilkan dari Desa Ketawangrejo tidak akan lancar dan petani akan lebih susah dalam memasarkan hasil pertanian mereka.

3. Pendistribusian pupuk yang kurang lancar oleh Pemerintah dan Swasta sehingga menghambat peningkatan produksi pertanian.
Pupuk yang ada di Desa Ketawangrejo belum mampu mencukupi kebutuhan para petani. Harga pupuk yang ditawarkan sangat memberatkan petani dan sangat susah didapat. Subsidi yang diberikan Pemerintah Daerahpun belum bisa memenuhi kebutuhan para petani akan pupuk. Pupuk yang ada di KUD harusnya lebih murah dalam kenyataanya justru lebih mahal. Pihak swasta juga masih membebani petani dengan persyaratan yang rumit untuk menjalin kerjasama.

4. Bencana gempa dan tsunami mengancam desa Ketawangrejo sewaktu – waktu.
Keadaan geografis Desa Ketawangrejo yang berada di pesisir pantai membuat hal ini tanpa disadaripun bisa teancam bencana alam sewaktu waktu. Keadaan ini menyebabkan terhambatnya segala pengembangan potensi yang ada, karena belum adanya penanganan secara maksimal jika bencana benar-benar terjadi dan masyarakat belum memiliki pengetahuan tentang itu.

5. Kondisi alam (musim) mempengaruhi hasil nira untuk pembuatan gula kelapa.
Jika musim hujan nira yang dihasilkan kelapa tidak bisa dimanfaatkan dalam pembuatan gula kelapa karena tercampur air hujan. Produksi gula kelapa hanya bisa dilakukan saat musim kemarau. Jadi kegiatan industri rumah tangga ini hanya bisa berjalan saat musim kemarau dan hasinya tentu tidak bisa secara berkelanjutan karena terpengaruh musim.

6. Peternakan kambing Peranakan Ettawa Kaligesing lebih dikenal dibandingkan peternakan kambing peranakan etawa Desa Ketawangrejo.
Keadaan iklim juga membawa pengaruh pada peternakan kambing Peranakan Ettawa. Suhu di daerah Kaligesing yang sejuk sangat cocok untuk perkembangbiakan kambing Peranakan Ettawa juga hasil susu sangat maksimal. Dan masyarakatnya lebih mengerti cara mengelola susu yang baik. Kaligesing juga merupakan tempat pembibitan kambing ettawa yang sudah terkenal dan itu menjadi nilai tambah. Sedangkan di Ketawangrejo baru saja berkembang dan suhu di daerah ini pun tidak menentu sehingga perkembangbiakan belum bisa berkembang dengan baik.

7. Bantuan bibit yang diberikan oleh pemerintah kondisinya sering kurang baik.
Pemerintah juga memberikan subsidi pada petani yaitu bantuan bibit, tetapi bibit yang diberikan kualitasnya tidak maksimal sehingga hasilnyapun kurang, petani lebih memilih membeli sendiri dengan harga yang mahal supaya hasil yang diperoleh lebih maksimal. Bantuan yang diberikan pemerintah tidak bisa membantu para petani.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan kondisi Lingkungan Internal dan Eksternal Desa Ketawangrejo yang dibuat dalam matriks SWOT (Lampiran 1. Matriks SWOT)

Setelah mengidentifikasi kondisi Lingkungan Eksternal (peluang dan Ancaman) dan Lingkungan Internal (kekuatan dan kelemahan), kemudian dilakukananaisis untuk mensinergikan keempat factor tersebut sehingga dapat dirumuskan asumsi strategi yang terdiri dari:
1. Asumsi Strategi S-O (Strength-Opportunity/Kekuatan-Peluang)
Asumsi strategi ini dibuat dengan mencocokkan antara Kekuatan dan Peluang, yaitu dengan cara mengoptimalkan kekuatan Desa untuk menangkap semua peluang yang datang dari lingkungan Eksternal (Luar), dan sebaliknya memanfaatkan peuang yang ada untuk memperkuat Desa.
2. Asumsi Strategi S-T (Strength-Treath/Kekuatan-Ancaman)
Asumsi strategi ini dibuat dengan mencocokkan antara Kekuatan dan Ancaman, yaitu dengan cara mengoptimalkan kekuatan desa untuk mengatasi ancaman yang datang dari lingkungan Eksternal.
3. Asumsi Strategi W-O (Weakness-Opportunity/Kelemahan-Peluang)
Asumsi strategi ini dibuat dengan mencocokkan antara kelemahan dan Peluang, yaitu dengan cara menangkap peluang yang datang dari lingkungan Eksternal untuk meminimalkan kelemahan yang ada di Desa.
4. Asumsi strategi W-T (Weakness-Trheat/Kelemahan-Ancaman)
Asumsi strategi ini dibuat dengan mencocokkan antara Kekuatan dan Ancaman, yaitu dengan cara mengatasi berabagai kelemahan desa untuk mengatasi Ancaman yang datang dari luar dan sebaliknya.

Analisis DPSIR

DPSIR (Driving Force-Pressure-State-Impact-Respon) adalah suatu kerangka umum untuk mengorganisir informasi tentang keaadaan lingkungan. Kerangka berpikir dalam proses DPSIR merupakan model analitik yang telah dterapkan di Eropa. Menurut Thunner, siklus DPSIR memberikan konteks yang general dan dapat di terapkan pada berbagai masalah wilayah pesisir
Analisis DPSIR terdiri dari 5 bagian yaitu:
a. Driving Force (faktor pemicu)
Menjelaskan tentang isu-isu yang sedang berkembang di Masarakat.
b. Pressure (tekanan)
Menjawab tentang pertanyaan mengapa terjadi permasalahan tersebut.
c. State (Kondisi eksisting)
State menjelaskan mengenai apa yang terjadi dan keadaan llingkungan pada saat ini.
d. Impact (dampak)
Merupakan dampak yang timbul dengan adanya isu dan penangulangan isu.
e. Response (tanggapan)
Adalah apa saja yang harus dilakukan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang terjadi dengan melibatkan stakeholders.

Analisis DPSIR Desa Ketawangrejo telah disusun berdasarkan masing-masing permasalahan dan isu yang berkembang di masyarakat sebagai faktor pemicu, dan rumusan program sebagai Respon.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: